JAVA JAZZ FESTIVAL 2009 (siaran pers)
Dec 25th, 2008 | By khirzan | Category: Java Jazz Festival, Jazz Event, News
Sebuah Persembahan
Jakarta, 15 Desember 2008
Anggapan kebanyakan orang yang awam terhadap musik jazz adalah musik jazz itu “njlimet”. Nadanya berubah-ubah, seperti juga ritmenya. Belum lagi pemain instrumen dan penyanyinya yang kadang berekspresi “merem-melek”, tidak selalu sedap dipandang. Namun itulah musik jazz. Penuh ekspresi.
Sebetulnya, tidak ada resep khusus bagaimana menikmati sajian musik jazz, baik dengan menyaksikan pertunjukan langsung, maupun rekamannya. Menikmati musik jazz merupakan sebuah apresiasi individual. Menerjemahkan kenikmatannya tergantung masing-masing orang. Karena itu, meski jazz sebagai musik, mutu seni, dan cara mengapresiasikannya sering diperdebatkan, namun sesungguhnya, seperti juga asal muasalnya, musik jazz adalah sebuah kebebasan ekspresi. Jadi boleh saja orang membenarkan anggapannya masing-masing.
Satu hal yang pasti, musik jazz merupakan peleburan dari berbagai pendekatan bermusik dari beragam latar belakang budaya. Karena manusia berkembang, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai perubahan dari masa ke masa, maka musik jazz-pun demikian pula. Evolusi musik jazz terus berlangsung sesuai dengan jaman, dimana di saat yang sama tetap ada orang yang memainkan musik jazz dengan pakem yang sebelumnya.
Itulah yang menyebabkan musik jazz, dengan segala bentuk modifikasinya, menjadi amat populer di berbagai belahan dunia. Bahkan, banyak orang beranggapan kemampuan menikmati musik jazz adalah sebuah gengsi. Tidak heran bila arena Jakarta International Java Jazz Festival (JJF) selalu dipadati pengunjung.
Musik Jazz Di Jakarta International Java Jazz Festival
Kekayaan ragam musik jazz seperti tidak habisnya ditampilkan di ajang Java Jazz Festival selama empat kali penyelenggaraannya dari tahun 2005 hingga 2008. Itupun belum menampung seluruh bentuk perkembangan jazz di Indonesia, apalagi di dunia.
Di Java Jazz Festival 2008, ada 18 panggung yang diisi oleh 300 pertunjukan. Ini salah satu sebab mengapa festival jazz ini menjadi yang terbesar di dunia. Dari tahun ke tahun, nama Jakarta International Java Jazz Festival (biasanya disebut singkat, Java Jazz Festival) semakin sering diperbincangkan oleh musisi manca negara.
Seiring dengan itu, makin banyak artis yang ingin tampil di Java Jazz Festival. Hanya saja tidak selalu Java Festival Production (penyelenggara Jakarta International Java Jazz Festival dan juga Jakarta International Soulnation Festival) mampu menampung keinginan semua musisi untuk tampil. Salah satunya sebabnya adalah karena daya tampung Jakarta Convention Center (JCC) dan jadwal penyelenggaraannya tidak dapat menampung keinginan semua musisi. Kenikmatan Java Jazz Festival sebagai ajang hiburan juga bisa berkurang bila jadwal pertunjukan terlalu padat.
Sebuah Persembahan untuk Indonesia
Masih melekat di ingatan kita semua, di tahun 2005, Indonesia belum lepas dari terpaan krisis ekonomi-keuangan. Ditambah lagi, bencana tsunami yang melanda berbagai kawasan Indonesia. Semua itu membuat pemberitaan tentang Indonesia di media massa internasional amatlah buruk.
Java Festival Production berketetapan menyelenggarakan Jakarta International Java Jazz Festival yang pertama kalinya pada tanggal 4, 5 dan 6 Maret 2005 . Misinya adalah “Bringing the World to Indonesia”. Maksudnya adalah membawa perhatian dunia ke Indonesia melalui pendekatan yang berbeda. Bahasa penghantarnya adalah musik jazz.
Nyatanya, pembicaraan diantara musisi dan masyarakat internasional yang datang ke Jakarta International Java Jazz Festival adalah positif. Mereka puas dan ingin datang kembali ke festival besar ini. Bahkan, beberapa musisi asal Amerika Serikat menyatakan keheranannya atas kenyataan yang berbeda tentang Indonesia dari berita yang disiarkan oleh media massa internasional.
Lepas dari paruh pertama tahun 2008, krisis ekonomi-keuangan kembali menekan kehidupan. Kali ini bahkan memukul lebih banyak negara di dunia. Sekali lagi Java Festival Production harus berhitung cermat agar dapat menyelenggarakan Jakarta International Java Jazz Festival 2009 yang mampu menjadi cara berdiplomasi Indonesia kepada dunia, sekaligus menyajikan pertunjukan musik jazz bermutu bagi pencinta musik jazz di Indonesia, maupun mereka yang datang dari pelbagai negara.
Java Festival Production sejak awal memang bukan sekedar menyelenggarakan festival, namun juga menjadikan festival berkelas internasional sebagai bagian promosi bagi negeri tercinta, Indonesia. Karena itu, meski menghadapi kendala, Java Festival Production bersikukuh menggelar Jakarta International Java Jazz Festival 2009 sebagai bagian kerja nyata anak bangsa dalam berdiplomasi bagi negaranya.
JAKARTA INTERNATIONAL JAVA JAZZ FESTIVAL 2009
Pada tanggal 6, 7, 8 Maret 2009, Jakarta International Java Jazz Festival akan kembali diselenggarakan untuk kelima kalinya. Bagi Java Festival Production dan seluruh pekerja di belakang kesuksesan Jakarta International Java Jazz Festival selama ini, penyelenggaraan kelima kalinya ini merupakan hal yang sangat istimewa. Karena sungguh tidak mudah menyelenggarakan salah satu festival jazz sebesar Java Jazz Festival selama lima kali.
Jakarta International Java Jazz Festival 2009 akan sedikit berbeda dari penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya. Salah satu keistimewaan yang dipersembahkan kepada pencinta Jakarta International Java Jazz Festival adalah harga tiket yang lebih murah dari tahun sebelumnya. Penetapan harga yang lebih murah ini dimaksudkan agar harga tiket dapat lebih terjangkau bagi semua pencinta Jakarta International Java Jazz Festival, sehingga semua dapat berkesempatan hadir di Jakarta International Java Jazz Festival pada ulang tahunnya yang kelima.
Java Festival Production juga ingin meningkatkan mutu penyajian pertunjukan dengan memberi kesempatan yang cukup kepada setiap grup untuk melakukan sound check, sehingga suara musik yang dihasilkan dapat maksimal. Pada akhirnya penonton yang paling dipuaskan dengan mutu penyajian tersebut.
Java Festival Production berencana untuk menghadirkan, antara lain Jason Mraz, Brian McKnight, Swing Out Sister, New York Voices, Ivan Lins, Matt Bianco, Isao Suzuki, Mike Stern, Oleta Adams, Peabo Bryson, David Garfield, Chieli Minucci & the Special EFX dan Ron King Big Band di Jakarta International Java Jazz Festival 2009.
Merupakan hal yang wajar bila tanggal 6, 7, 8 Maret 2009 diagendakan sebagai saat pencinta jazz berbaur bersama musisi dan penyelenggara Jakarta International Java Jazz Festival untuk kelima kalinya di JCC. Bagaimanapun hadir di Jakarta International Java Jazz Festival adalah bagian dari gaya hidup.
“Jakarta International Java Jazz Festival 2009, it’s a lifestyle.”
*Untuk informasi lebih lanjut: www.javajazzfestival.com



gw cuma mimpi dpt tiket, abis jauh dari jakarta.
tp gw seneng bgt pas tahu ada acara Java Jazz Festival di Qtv, pki indovision, bagus2 penampilannya.
dan tiketnya ternyata dijual jg di http://www.qstore.tv, gw tahunya pas mampir ke situsnya qtv di http://www.qchannel.tv...