Nazar Noe’man “Meramu Jazz Sebagai Hiburan dan Bisnis”
Dec 30th, 2009 | By khirzan | Category: KLCBS Overview, NewsInspiration COMMUNITY
MERAMU JAZZ SEBAGAI
HIBURAN DAN BISNIS
Nazar Noe’man, Chairman KLCBS FM Bandung, Member MarkPlus Club Bandung
MELIHAT SEJARAHNYA, jazz adalah sebuah seni ekspresi dalam bentuk musik. Tradisi jazz berkembang dari gaya hidup masyarakat kulit hitam di Amerika yang tertindas. Tribal drums, musik gospel, blues, serta teriakan peladang mewarnai musik ini. Proses kelahirannya memperlihatkan bahwa musik jazz berhubungan erat dengan pertahanan hidup dan ekspresi kehidupan. Itulah yang mem- buat musik jazz mengena di kuping para pendengarnya.
Nazar Noe’man adalah penggemar jazz. Sejak kecil, anak kedua dari empat bersaudara ini sudah dikenalkan musik jazz dan klasik oleh ayahnya Achmad Noe’man, arsitek terkenal yang merancang Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sejak kecil telinganya sudah akrab dengan per- mainan legenda jazz seperti Miles Davis dan Jhon Coltrane.
Bagi Nazar Noe’man, musik jazz bukan sekadar hiburan. Jazz adalah napasnya. Pria yangmemiliki nama lengkap Nazar Achnudy Taufiqurrachim Noe’man ini adalah pemilik radio KLCBS Bandung, yang mengusung musik jazz sebagai jualan utama. Baginya musik jazz tidak sekadar menghibur dan mencerahkan tetapi juga bisa menjual.
Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan Nazar kepada audience KLCBS ketika Marketeers bertemu dengannya di Bandung. KLCBS sendiri kini menjadi radio jazz berwibawa untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Radio ini tidak hanya menyaji- kan musik tetapi menjadi referensi bagi pe- nikmatjazz.
KLCBS yang berdiri pada 1982 adalah singkatan dari Karang Layung Citra Budaya Suara. Nama itu sesuai dengan alamat radio ini yang berlokasi di Jl Karang layung 10, Su- kajadi Bandung Utara. Studio ini berdamp- ingan dengan rumah Nazar yang berada di sebelahnya.
Nazar berhasil membangun KLCBS lewat racikan musiknya yang digemari beragam usia dan kalangan. Ia yang paham tentang jazz dibantu istri dan anak pertamanya Khirzan Noe’man dalam meramu musik tersebut.
Kesungguhannya meramu musik itulah yang membuat KLCBS selalu dikenang pendengarnya. Beberapa mantan pelajar dan mahasiswa Bandung merasa kehilangan musik ini ketika harus meninggalkan kota tersebut. Mereka yang bertestimoni di blog KLCBS mengaku, setelah meninggalkan Bandung tidak bisa lagi mendapatkan musik jazz seapik yang disiarkan KLCBS.
“Jazz memang musik untuk segala usia dan golongan. Jazz bukan musiknya kaum elite dan mapan sebagaima- na anggapan banyak orang selama ini.”
Namun belakangan kerinduan mereka terobati. Bukan karena mendengar musik jazz dari stasiun radio lain, tetapi berkat siaran KLCBS yang bisa diakses melalui internet. Teknologi berhasil mendekatkan para penggemar jazz dengan KLCBS. “Saya senang, KLCBS sudah ada online streamingnya. Ini cukup membantu kerinduan para pendengarnya yang kebetulan punya koneksi internet yang beradajauh dari jangkauan radio,” papar salah seorang penggemar.
Keterlibatan Nazar dengan radio melalui sejarah yang panjang. Kecintaannya kepada radio dimulai sejak umur 10 tahun. Sejak kecil ia suka utak-atik masalah keradioan.
Pria yang lahir 19 Februari 1960 ini tinggal dekat kampus ITB di Jalan Ganesha, tempat mangkal mahasiwa teknik elektro yang membuat pemancar radio gelap. Di depan studio radio, Nazar kerap berlama-lama nongkrong hingga ia sering diperingatkan untuk berhati-hati agar tidak kesetrum.
Dari hobi dan pengalaman itu, Nazar mencoba membuat pemancar. Mulanya hanya pemancar liar, namun akhirnya mendapat izin frekuensi FM 100,55.
Ketika radio KLCBS resmi mengudara, secara berani ia memproklamirkan KLCBS sebagai The Jazz Wave atau gelombang jazz. Selanjutnya, KLCBS menggunakan gelombang FM 100,4.
Selain misi komersial, radionya juga memiliki tanggungjawab memberi informasi yang menarik dan mencerdaskan. Nazar juga memasukkan unsur pencerahan lewat siraman rohani singkat yang disiarkan setiap jam, tepat pada pergantian waktu. Dengan KLCBS, ia ingin mengajak pemirsa untuk ber- syukur dan merenungi makna hidup.
Ajakan itu berdasarkan pengalaman hidupnya yang sukses berkat rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Ketika duduk di kelas II SMA, Nazar terkena glukoma hingga mengakibatkan gangguan penglihatan. Berbagai upaya pengobatan telah ditempuh, termasuk berobat ke Belanda, tetapi kurang membantu.
Sejak itu Nazar terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah seperti kakak dan adik-adiknya yang menempuh pendidikan di luar negeri. Namun berkat saran ayahnya, ia berhasil memanfaatkan kelebihan penden- garannya dan hobinya terhadap musik jazz dengan mendirikan KLCBS. Lewat radio itu, ia berhasil menjalani hidup dengan penuh makna. ? ATA
artiketel terkait di www.the-marketeers.com
download pdf


