“Dreams and Shadows” Judy Wexler

“Dreams and Shadows” Judy Wexler
Jarang terjadi ada album vokal jazz yang membuat seseorang berdiri dan memperhatikan  dengan cermat saat pertama kali  mendengarkannya. Tetapi, Judy Wexler mencapai reaksi tersebut melalui album “Dreams and Shadows” yang brilian.  Demikian menurut Ken Dryden dari All Music Guide.  Kehebatan tersebut antara lain didukung kemampuan insting Wexler  untuk memunculkan sisi terbaik dari setiap lagu,  dan kerap  lagu-lagu tersebut dibawa ke wilayah yang tidak biasa. Aransemen penuh daya cipta dari pianis Alan Pasqua dan Jeff Colella, juga factor penting  beserta penggunaan para solois kunci yang menambahkan cita rasa pada setiap lagu. Ada lagu-lagu favorit yang dibawakan, seperti    seting post bop yang mengarahkan lagu  "Comes Love" menggunakan  harmoni yang berganti-ganti dari Jeff   Colella's.  "If I Only Had a Brain"  menamipilkan  Wexler yang jenaka dengan aksen  kicauan seperti burung dari permainan soprano saxophone Bob Shepherd.  Karya  Sonny Rollins "Pent Up House"  dengan tambahan lirik dari Prather menampilkan kreasi ulang yang tangkas dari Judy Wexler terhadap permainan solo yang aslinya  dibawakan Sonny Rollins. Beberapa lagu merupakan lagu pop.  Penanganan yang sensitive dari Wexler terhadap  aransemen  Alan Pasqua pada "One Less Bell to Answer", hit the 5th Dimension, dan aransemen bossa nova yang genit  pada  "Spooky" diselingi  permainan muted trumper bertenaga  dari Gilbert Castellanos, adalah contoh pencarian materi lagu di tempat-tempat yang tak terduga. Penafsiran yang sensual  pada karya  Victor Young "Dreams & Shadows (Delilah)"  dan gaya bernyanyi scat yang memikat pada karya Jerome Kern "In Love in Vain" mengangkat dua lagu indah dari dua master the Great American Songbook.  Judy Wexler layak mendapat pengakuan yang luas  untuk album “Dreams and Shadows” yang mengagumkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 7 = eight

Current day month ye@r *