Jazz In Motion : Tradisi Katolik-Latin New Orleans

Jazz In Motion : Tradisi Katolik-Latin New Orleans

Tradisi musik yang kuat di New Orleans berlangsung lama sebelum jazz lahir. Musik pengiring dansa menjadi bagian penting warga New Orleans. Tradisi Katolik-Latin New Orleans juga menganggap dansa bukan dosa. Ketika pendeta-pendeta Protestan meminta warga agar membatasi dansa, orang New Orleans menolaknya dengan keras. Musik pengiring dansa itu dimainkan musisi Creole, orang kulit berwarna blasteran perancis dan Afro-Amerika, terkadang dalam format orkestra, seringnya trio atau quartet string. Selain mengiringi acara di aula dansa, para musisi juga sering bergabung dalam marching band. Mereka menghibur warga yang piknik di taman atau danau, juga mengiringi pemakanam yang sering sekali terjadi. New Orleans yang dikelilingi rawa-rawa, sering ditimpa wabah demam kuning, kolera dan malaria yang menewaskan ribuan warga. Musik juga sarana hiburan warga. Teater-teater di New Orleans menampilkan musik mongrel yang aneh dari pertunjukan minstrel. Musik minstrel dikembangkan dari lagu asli orang kulit hitam dan lagu rohani, diubah menjadi komposisi formal oleh penulis lagu kulit putih dan kulit hitam, ditampilkan oleh orang kulit putih yang wajahnya dihitamkan.  Pertunjukan minstrel memperlihatkan antusiasme blak-blakan terhadap musik dan tarian dari kelompok minoritas kulit hitam yang paling dibenci saat itu di Amerika Serikat. Lagu hit minstrel pertama “Jim Crow”, dibawakan orang kulit putih, Thomas Dartmouth “Daddy Rice”, aslinya dinyanyikan  seorang tukang membersihkan kandang kuda kulit hitam.  Dartmouth menampilkan lagu tersebut beberapa kali di New Orleans dan mendapat sambutan hebat. Pada 1850, pemerintah kota New Orleans menyokong dua orkestra simfoni, orkestra kulit putih dan orkestra Creole, serta tiga opera house, dengan tempat duduk terpisah bagi kulit putih, Creole, dan budak. Para budak dapat menonton opera, asalkan menunjukkan surat izin dari majikannya saat membeli tiket. Para pengunjung dari daerah Utara kadang terkejut mendengar senandung para budak menyanyikan musik-musik aria, di antara teriakan para pedagang jalanan. Sementara orang New Orleans sudah terbiasa mendengarnya. Demikianlah tradisi musik orang kulit putih dan kulit hitam di New Orleans yang telah bercampur sebelum lahirnya musik jazz. (Dikutip dari buku “Jazz – A History of America’s Music” karya  Geoffrey C. Ward dan Ken Burn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 + one =

Current day month ye@r *