Seminar Industri Unggulan Ekspor Jawa Barat “Memperbaiki Daya Saing Sektor Industri Strategis Guna Peningkatan Ekspor Nasional”

Seminar Industri Unggulan Ekspor Jawa Barat “Memperbaiki Daya Saing Sektor Industri Strategis Guna Peningkatan Ekspor Nasional”

Tujuan dari seminar ini adalah untuk memperbaiki daya saing sektor industri-industri strategis untuk meningkatkan ekspor nasional. Industri-industri strategis itu meliputi industri kreatif, industri agro, dan industri maritim yang kandungan lokalnya sangat tinggi. Industri-industri ini diakui memiliki kandungan lokalnya (TKDN) sangat tinggi dibandingkan dengan industri- industri lainnya. Maksud dan tujuan diselenggarakannya seminar ini tentu saja sesuai dengan tujuan utama dari berdirinya GPEI (Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia), yaitu: mengembangkan perdagangan ekspor, mendorong Usaha Kecil & Menengah, mengoptimalkan Sumber Daya Alam & Sumber Daya Manusia dan meningkatkan ekspor non-migas & devisa negara. Seperti kita ketahui bersama bahwa perdagangan dunia telah mengalami perubahan dan kemajuan yang pesat di bidang komunikasi, keuangan, informasi dan transportasi. Perdagangan internasional merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kemajuan ekonomi. Dan salah satu lokomotif penggerak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah adalah dengan peningkatan ekspor dan investasi.

Untuk memasuki perdagangan dunia yang semakin terbuka, diperlukan daya saing produk agar bisa lebih kompetitif (competetiveness). Daya saing merupakan konsep perbandingan kemampuan dan kinerja perusahaan atau negara untuk menjual dan menawarkan barang/jasa dalam suatu pasar. Adapun elemen peningkatan daya saing meliputi beberapa hal, di antaranya: kualitas produk (quality assurance), kualitas layanan (service quality) dan kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Masih banyaknya kendala, baik internal maupun eksternal, yang dihadapi industri-industri strategis ini membuat industri ini tidak berkembang sebagaimana mestinya. Di antara kendala internal tersebut antara lain: masalah kecukupan suplai bahan baku utama; kualitas, inovasi dan produktifitas yang rendah; biaya produksi, distribusi dan handling charges yang tinggi; banyaknya regulasi yang masih terpusat dan rumit; buruknya kondisi insfrastruktur (jalan raya, rel Kereta Api, fasilitas pelabuhan dan bandara) dan tingginya suku bunga bank.

Adapun kendala eksternal yang kita hadapi adalah: pertama, persaingan produk sejenis dari negara lain yang pada umumnya lebih murah dan mempunyai produktifitas lebih tinggi sehingga mempunyai daya saing yang lebih baik dibandingkan dengan produk yang kita hasilkan.

Kedua, adanya peraturan dari negara tujuan yang berhubungan dengan isu lingkungan, kesehatan dan keamanan.

Ketiga, mahalnya biaya distribusi (ocean/air freigt) karena tanshipment melalui pelabuhan Singapura, Port Klang dan Hongkong. Padahal pelabuhan mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam menunjang kecepatan dan kelancaran arus barang. Masih adanya kendala-kendala tersebut yang membuat industri manufaktur dalam lima tahun terakhir mengalami pasang surut dalam pertumbuhannya. Pada tahun 2015 pertumbuhannya 4,64%, tahun 2015 sebesar 4,33%, tahun 2016 sebesar 4,26%, tahun 2017 sebesar 4,29% dan
tahun 2018 sebesar 4,27%.

Untuk itu, sekurang-kurangnya ada 10 langkah untuk meningkakan daya saing sektor industri strategis guna meningkatkan ekspor nasional.

Pertama, mempermudah/memfasilitasi eksportir mendapatkan bahan baku dari lokal dengan fasilitas Kemudahan Lokal Tujuan Ekspor (KLTE) dan Optimalisasi Penggunaan PLB.

Kedua, Harmonisasi Kebijakan Pengembangan Industri Manufaktur dan Perlindungan pasar dengan memberikan fasilitas penurunan production cost bagi industri Upstream dan Intermediate Goods dan/ atau semi-finished products sehingga bisa bersaing dangan barang sejenis asal impor. Sedangkan Industri Hilir dilindungi, dengan Bea Masuk, Tariff & Non Tariff Barrier.

Ketiga, restrukturisasi permesinan/peralatan industri manufaktur menuju Global Supply Chain dan Industry 4.0, dimulai dari 10 industri andalan ekspor dan industri subtitusi impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Keempat, memperkuat Industri Kecil-Mikro (downstream) sebagai jaminan pasar bagi Industri Besar-Menengah (Intermediate Goods dan/ atau semi-finished products).

Kelima, kerja sama perdagangan Internasional dengan negara-negara komplementer (kepeningan pasar) dan negara sumber bahan baku yang tidak diproduksi dan/atau terbatas pasokannya didalam negeri (kurang keekonomian).

Keenam, evaluasi Base Line Nilai UMK Karawang, dan daerah lain sejenis, dan meninjau kembali/kaji pemberlakuan Upah Sektoral.

Ketujuh, menjadi bagian dari Global Supply Chain untuk produk yang memiliki value added
(Intermediate Goods dan/ atau semi-finished products).

Kedelapan, tidak mengeluarkan kebijakan yang kontra-produktif. Kesembilan, percepatan perbaikan insfrastruktur (jalan raya, rel Kereta Api, fasilitas pelabuhan dan bandara). Kesepuluh, penurunan suku bunga bank.

GABUNGAN PENGUSAHA EKSPOR INDONESIA (GPEI)
DEWAN PENGURUS DAERAH JAWA ARAT
Gedung KADIN Jawa Barat Lt 4
Jalan Sukabumi No. 42 Bandung
Telp : 0853 2013 8996

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight × = 24

Current day month ye@r *