Patah Jantung atau Patah Hati, Pemicunya di Otak

Patah Jantung atau Patah Hati, Pemicunya di Otak

Jantung kita dapat rusak setelah mengalami kejadian menyedihkan, dan kemungkinan hal itu karena apa yang terjadi di otak kita. Demikian menurut peneliti University Hospital Zurich di Swiss seperti dipublikasikan dalam the European Heart Journal. Peneliti menganalisis kondisi langka dan tidak lazim yang disebut sindrom patah jantung (broken heart syndrome).

Kondisi jantung yang secara tiba-tiba melemah dan gagal berfungsi, kerap terjadi setelah peristiwa yang memicu stress atau menguras perasaan seperti kematian seseorang. Riset mengindikasikan, respon otak terhadap stress berperan dalam memicu broken heart syndrome. Sindrom patah jantung atau sindrom takotsubo, berbeda dengan serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah, tetapi memiliki tanda-tanda serupa. Sindrom patah jantung dapat bersifat sementara, yang mana otot-otot jantung akan pulih dalam beberapa hari hingga beberapa bulan, tetapi pada beberapa kondisi dapat mematikan.

Dalam studi terhadap 15 pasien sindrom patah jantung, penelit menemukan perbedaan jelas antara otak pasien dan otak partisipan sehat. Terlihat minimnya komunikasi antara bagian otak terkait kontrol emosi dan respon tubuh tanpa sadar atau otomatik, seperti denyut jantung. Bagian-bagian otak itu diduga mengendalikan respon manusia terhadap stress, tetapi peneliti belum memahami sepenuhnya koneksi tersebut.

Source : rte.ie
youtube.com
discovermagazine.com

www.klcbs.net
@klcbs
Fb: klcbs
Ig: klcbs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 7 = zero

Current day month ye@r *